Setahun Terjadi Lima Kasus Gizi Buruk

Silampari Online, 

REJANG LEBONG – Ketua DPC Persagi Rejang Lebong Eni Seri Wahyuni usai dikukuhkan menjadi pengurus Persagi, masa bhakti 2018-2022. Bertempat di aula BLKM.
Eni Seri mengatakan, upaya menurunkan kasus gizi buruk ini mereka lakukan dengan metodelogi validasi. Guna memastikan gizi buruk atau bukan serta mengetahui ada tidaknya penyakit penyerta.

Muat Lebih

“Anak yang menderita gizi buruk ditangani secara khusus selama tiga bulan dengan memberikan makanan tambahan. Jika dalam waktu itu belum pulih maka akan ditambah waktu tiga bulan lagi sampai kondisi anaknya normal,” ungkap Eni usai pelantikan Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Kabupaten Rejang Lebong Kamis (25/1).

Dijelaskan Eni Sejauh ini kasus gizi buruk yang terjadi pada 2017 terdapat lima kasus. Dimana kasus gizi buruk yang terjadi itu tidak murni oleh kekurangan asupan semata tetapi juga akibat penyakit penyerta seperti hydrosepalus, TB dan lainnya. “Anak-anak yang menderita gizi buruk ini sudah ditangani petugas gizi dan menjalani perawatan di RSUD Curup. Penanganan yang diberikan untuk penderita gizi buruk ini dengan memberikan pemberian makanan tambahan atau PMT, sedangkan untuk kasus anak gizi kurang diberikan biskuit MP-ASI,” terang Eni
Sementara itu, Plt Kepala Dinkes Rejang Lebong sekaligus Pensehat Persagi menyampaikan,dengan adanya Persagi maka Dinkes RL bisa bersama-sama meningkatkan dan membangun pentingnya kesadaran prilaku hidup sehat dan gizi seimbang dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. “Dengan dilantiknya 34 anggota Persagi RL ini maka bisa mejadi tambahan kersama lintas sektor dalam mengurangi kasus Gizi buruk di RL ini,” kata Syamsir.

Dalam penanganan dan pengurangan gizi buruk ini lanjut Syamsir, harus ada dinergi antara lintas sektor terkait selain Persagi, seperti Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan lintas sektor lainnya. “Memang harus ada kerjama sama sinergi menghilangkan angka kasus gizi buruk ini, karena gizi buruk ini dikarena hal ekonomi yang membuat kebutuhan gizi tidak bisa terpenuhui,” papar Syamsir.

Lanjutnya, selain Persagi, pihaknya saat juga telah memiliki kader gizi dan asi yang sudah dibentuk pihaknya yang bertujuan untuk memberikan pemahman kepada masyarakat tentang pengetahuan gizi dan asi. “Persagi ini memang tidak terkafer menangani 200 ribu masyarakat RL, maka dengan kader gizi dan asi ini bisa membantu dalam memberikan pemahaman dalam mengurangi bahkan menghilangkan kasus gizi buruk dan gizi kurang di RL,” tandas Syamsir. (HS-06)