Siapkan 5 Ribu Pasang Buku Nikah

Kantor Kementerian Agama (Kankemanag) Kabupaten Empat Lawang, menstok 5 ribu pasang buku nikah pada tahun 2018 ini. Dengan jumlah sebanyak ini, dapat dipastikan stok buku nikah sepanjang tahun 2018 mendatang, dapat dipastikan aman, sebab rata-rata peristiwa nikah di kabupaten ini pertahunnya antara 2 ribu hingga 3 ribu peristiwa nikah. Berikut Laporannya.

Laporan : Oci/Empat Lawang.

Muat Lebih

Pada tahun 2017 lalu, peristiwa nikah cuma terjadi 2125 kali saja, pernah ada yang paling tinggi, itu terjadi di tahun 2012 itu sebanyak 3064 kali peristiwa nikah. Hal tersebut diutarakan Kepala Kankemenag Kabupaten Empat Lawang, H Saidi melalui Kasi Bimas Kankemenag Kabupaten Empat Lawang, HM Syaifullah kepada Harian Silampari di ruang tugasnya, Senin (22/1).

Karena itu, warga di Kabupaten Empat Lawang, kata dia, tidak perlu khawatir dengan stok buku nikah yang tersedia. “Karena, dengan melihat jumlah peristiwa nikah per tahunnya, stok buku nikah yang kita siapkan untuk tahun 2018, sebanyak 5 ribu pasang, dapat kita katakan aman,” ungkap Syaifullah.

Dikatakannya, 5 ribu pasang stok buku nikah itu disimpan di Kantor Kemenag Kabupaten Empat Lawang. Pihak Kantor Urusan Agama (KUA) di tingkat kecamatan, jika mana perlu, mereka akan mengajukan ke Kantor Kemenag dan selanjutnya pihak Kantor Kemenag memproses usulan tersebut dan mengeluarkan buku nikah yang diajukan pihak KUA. “Karena memang di KUA, mereka tidak ada tempat menyimpan, makanya stok buku nikah itu disimpan di Kantor Kemenag tingkat kabupaten,” jelas Syaifullah.

Diapun menyebut, masih banyak masyarakat di Kabupaten Empat Lawang, menganggap sepele pada data yang tercacat di buku nikah. Seperti contoh, ketika ada nama yang tertulis di buku nikah tidak sesuai dengan dokumen admistrasi lain, masyarakat langsung mencoret data yang tidak sesuai itu dan langsung mengganti saja sesuai dengan keinginan masyarakat tersebut. “Padahal itu tidak bisa dibenarkan, kalaupun ada data yang tidak sesuai, harusnya langsung mengajukan perubahan data, untuk selanjutnya dapat diproses perbaikan. Bukan main ganti saja,” ujarnya.

Makanya saat ini pihaknya, kata Syaifullah, pengajuan pencatatan pernikahan oleh pasangan yang ingin menikah, juga melampirkan foto copy ijazah pasangan. Ini bertujuan saat petugas mencatatkan data pasangan tidak terjadi kesalahan data nama dan sebagainya.

“Kita minta copy ijazah SD, kalau data di ijazah SMP, SMA dan seterusnya, itu mengikuti ijazah SD. Nanti, saat proses pencatatan nikah, data admistrasi di KTP, KK dan ijazah, itu kita cocokan, jika ada yang berbeda, nanti cepat kita tanyakan mana yang benar, agar proses pencatan pernikahan tidak salah data,” paparnya.

Saat ini lanjut dia, pernikahan dibawah usia perkawinan yang dimaksud dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, tidak terdata di Kantor Kemenag Kabupten Empat Lawang. Sebab, sudah ada larangan bagi petugas pencatat nikah untuk hadir dalam sebuah peristiwa nikah semacam itu.

“Jika tidak dihadiri oleh petugas, artinya secara hukum (negara), peristiwa pernikahan dibawah umur, tidak sah. Pencatatan pernikahan dibawah umur juga tidak bisa kita catatkan, apalagi saat ini kita menggunakan applikasi SIMKAH, jika dibawah usia pernikahan, otomatis program akan menolak dengan sendirinya,” tukasnya. (*)