SMA Negeri 5 Lubuklinggau Berlakukan Sistem Poin

SILAMPARI ONLINE

LUBUKLINGGAU – Kepala SMA Negeri 5 Lubuklinggau yang diwakil Waka Kesiswaan menanggapi tentang pelajar yang sering melanggar tata tertib di sekolah. Tata tertib adalah aturan-aturan yang harus atau wajib ditaati di sekolah agar proses kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. “Biswa yang melanggar tata tertib. Saya selaku Waka Kesiswaan langsung saya tanyakan ke wali kelasnya sudah ditindak apa belum, kalau sudah dan siswanya tidak ada perubahan langsung kami kunjungkan,”kata Kepala SMA Negeri 5 Lubuklinggau Jamaludin diwakili Waka Kesiswaan Titi Arianty saat diwawancarai Harian Silampari.Jumat(20/9).

Muat Lebih

Kalau sudah ada kunjungan pasti harapannya itu ada perubahan kalau tidak ada perubahan apa masalahnya. “Disamping itu kami juga memperlakukan sistem poin, kalau poinnya sudah maksimal dan kami juga sudah mengadakan pemanggilan maupun kunjungan tidak ada perubahan bearti anak tersebut tidak mau di bina disini,”ungkapnya.

Batas maksimal dari poin yang ditentukan oleh pihak SMA Negeri 5 Lubuklinggau itu 100. “Jadi di sekolahan kita ini kalau untuk siswa baru akan kami bagikan buku tata tertib yang mana didalam buku itu sudah dituliskan tata tertib yang ada disekolah ini sekaligus poin-poin pelanggarannya,”ujarnya.

Buku tata tertib ini berbentuk seperti raport setiap siswa yang ada di SMA Negeri 5 Lubuklinggau memiliki buku tata tertib ini. “Buku ini bertujuan supaya seluruh siswa dan orang tua dirumah bisa mempelajari tata tertib yang ada di sekolahan ini, takutnya nanti kami menindak lanjuti orang tua tidak tau, padahal buku ini setiap siswa sudah dibagi,”jelasnya.

Di SMA Negeri 5 Lubuklinggau ini merupakan salah satu sekolah yang melarang siswanya membawa HP. “Kalau ada siswa yang kedapatan membawah HP terpaksa kami rampas HP nya untuk sementara dan akan kami berikan pada saat pembagian raport kenaikan kelas, cuman kerusakan HP bukan tanggung jawab pihak sekolah,”ungkapnya.

Sistem poin ini sudah berlaku di SMA Negeri 5 Lubuklinggau dari tahun 2011. “Kendala yang terutama itu dari wali murid karena penyampaian siswa kepada orang tuanya itu salah, contohnya siswa menyampaikan bawasannya hpnya dirampas guru, jadi orang tua tanpa tanya, mereka langsung ke sekolah,”ujarnya.

Tata tertib itu harus bekerjasama dengan pihak keluarga, karena siswa lebih sering bertemu dengan keluarga sedangkan kita cuma baru beberapa menit itu pun tidak rutin, kalau keluarga harusnya bisa bekerjasama dengan hal seperti ini, agar pendidikan meningkat.

Laporan : Fahri (Harian Silampari)