Sulawesi Utara Terjadi Gempa, Sejumlah Tempat Ibadah, Sekolah Rusak

Kerusakan akibat kempa di Kabupaten Kepulauan Talaud Sulawesi Utara (Foto - BPBD Kabupaten Talaud)

SILAMPARI ONLINE,

SULTRA – Lebih dari dua puluh rumah rusak berat akibat gempa bumi magnitudo 5,7 yang mengguncang Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, beberapa waktu lalu. Selain ada dua puluh rumah yang rusak berat ada puluhan rumah lainnya yang mengalami tingkat kerusakan ringan hingga sedang.

Bacaan Lainnya

Menurut pihak Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jumlah kerusakan dengan tingkat berat sampai 12 September 2020, pukul 17.00 WIB ada 28 unit, dan rusak sedang 50 serta ada 36 rumah rusak ringan.

bahkan sejumlah tempat ibadah, sekolah dan kantor juga banyak yang rusak. Data kerusakan bangunan tersebut meliputi gereja yang rusak berat ada 4 unit, rusak sedang 2 dan dan rusak ringan ada 1, sedangkan sekolah yang rusak ada 1 unit rusak sedang ada 2 dan serta kantor BPU juga ikut rusak.

Gempa bumi itu terjadi sekitar pukul 14.18 WIB. Ada tiga warga yang tercatat mengalami luka-luka

“Gempa dengan Magnitute 5,7 itu terjadi pada Rabu (9/9) yang dampaknya hingga ke Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Titik gempa ada di kedalaman 74 km,” sebut ujar Triyono dalam keterangan pers.

Guncangan gempa itu terasa selama 3 hingga 5 detik di Kecamatan Melonguane, Kepulauan Talaud. Getaran yang kuat dan spontan itu membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. BPBD masih melakukan kaji cepat di lapangan pascagempa siang ini. Berdasarkan hasil pemodelan, gempa tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan analisis BMKG, guncangan gempa yang diukur dengan skala MMI atau Modified Mercalli Intensity menunjukkan Sangihe II MMI dan Melonguane III – IV MMI. Skala III MMI memberikan gambaran getaran dirasakan nyata dalam rumah dan getaran dirasakan seolah-olah ada truk berlalu di sekitar kita, sedangkan IV MMI menunjukkan situasi yang dirasakan oleh banyak warga di dalam rumah, di luar oleh beberapa orang serta gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi.

Sementara itu, Kepala Pusat Gempa bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menyebutkan dalam rilisnya bahwa berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi menengah akibat aktivitas subduksi lempeng Laut Maluku.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault,” ujar Triyono.(*/arl/siberindo.co)