Terlunta-lunta Setelah Ditinggal Suami

Cik Uya (83) hidup sebatang kara dan membutuhkan perhatian pemerintah dan masyarakat agar dirinya bisa bertahan hidup diusainya yang sudah renta

Silampari Online

Kisah Cik Uya Hidup Sebatang Kara
Cik Uya saat ini berumur 83 tahun, warga Desa Setia Marga/SP4 Kecamatan Karang Dapo Kabupaten Muratara. Ia hidup sebatang kara dan serba kekurangan.

Muat Lebih

Apri – Muratara

Kisah ini, diceritakan Leni (43) warga yang sama dengan Cik Uya. Kalau Cik Uya sangat miskin perlu sekali membutuhkan bantuan, karena ia hidup sendiri, sejak ditinggal mati suaminya sejak dua tahun lalu.

Meski sendiri, Cik Uya tidak pernah putus asa, ia masih semangat menjalani kehidupan sehari hari. Ia bekerja serabutan, asal dirinya bisa makan. Bahkan ia tidak pernah menunjukan rasa mengeluhnya kepada siapapun. Meskipun begitu, masyarakat dapat melihat betapa pilunya Cik Uya menjalani kehidupan di umur yang sudah 83 tahun tersebut.

“Bahkan tidak jarang, Cik Uya harus berpuasa, karena tidak ada yang bisa ia makan, kami sebagai tetangga terkadang merasa pilu dan kasihan,melihatnya, tetapi Cik Uya juga tidak jarang mendapatkan belas kasih dari kami para masyarakat desa ini,”terang Leni.

Melihat situasi ini, pasti siapapun akan iba dengan kondisi Cik Uya, oleh karena itu, berharap pemerintah daerah bisa menjadi perpanjangan napas untuk membantu ataupun memberikan solusi.

Bantuan pangan non tunai (BPNT) yang baru saja digulirkan, menjadi salah satu program yang sangat membantu, untuk masyarakat yang kehidupannya sama seperti Cik Uya.

“Beliau baru kali ini mendapatkan bantuan, dan ia sangat senang sekali,”ungkap Leni.

Kemudian berdasarkan keterangan Kepala Desa Setia Marga/SP4, Bambang Hardianto membenarkan, Cik Uya hidupnya terlunta lunta sejak ditinggal mati suaminya.

“Kami segenap pemerintah desa sering berkunjung ke tempat nenek tersebut, memberikan sedikit rejeki untuk beliau, agar nenek tersebut bisa bertahan,”ungkapnya.

Sebelumnya pihak desa sudah mengajukan Cik Uya untuk mendapatkan bantuan sosial. Namun setelah didata,bantuan dari dinsos, nama Cik Uya tidak ada. Kemudian pihak desa kembali mengurus, dan masuk kedalam program bantua dari pemerintah yakni BPNT.

“Kami merasa sangat bersyukur sekali bantuan berupa Beras 5 KG, dan satu karpet telur ayam setiap sebulan sekali bisa didapati Cik Uya,”terangnya.(*)