Warga Tugu Sempurna Lakukan Ritual Ngaben

Camat Muara Kelingi, Kapolsek Muara kelingi bapak AKP Hendri Agus, Babinsa 406-05/Muara Kelingi Serma Rohmadani, Babinkamtibmas Brigpol Irfan.s, aparat desa Tugu Sempurna dan Kapolsek Muara Kellingi AKP Hendri Agus, saat hadiri ngaben, Rabu (4-9). foto Krismanto-Harian Silampari

SILAMPARI ONLINE

MUARA KELINGI
– Ngaben secara awam sering diartikan sebagai tradisi ‘pembakaran’ mayat yang dilakukan masyarakat Bali. Namun sebenarnya istilah ini tak selamanya tepat. Karena di kalangan masyarakat Bali, ngaben juga sering disebut dengan kata palebon. Palebon diyakini berasal dari kata lebu yang berarti tanah atau debu. Jadi, ngaben atau palebon adalah sebuah prosesi upacara bagi sang mayat untuk ditanahkan (menjadi tanah).
Dalam hal men-tanah-kan ini masyarakat Hindu Bali mengenal dua cara yakni dengan menguburkannya dan atau membakarnya. Dengan kata lain prosesi pembakaran mayat ada dalam upacara ngaben, tapi ngaben tidak berarti selalu berupa upacara pembakaran mayat.
“Secara bahasa, kata ngaben berasal dari kata beya yang berarti biaya atau bekal,” ucap Resi Ida Pandita Mpu Sri Widya Nanda ini sebelum dimulai pembakaran mayat (ngaben), dusun 2 desa Tugu Sempurna Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas, Rabu (4/09).
Dalam upacara , ritual Ngaben itu, dihadiri Camat Muara Kelingi, Kapolsek Muara Kelingi AKP Hendri Agus, Babinsa 406-05/Muara Kelingi Serma Rohmadani, Babin Kamtibmas Brippol Irfan.s, Aparat desa Tugu Sempurna.
Namun dalam pelaksanaannya, ucap Kades Tugu Sempurna, bahwa upacara ngaben yang merupakan tahap terakhir perjalanan manusia di bumi ini, membutuhkan biaya yang tak sedikit. Sehingga belakangan mulai muncul tradisikan ngaben massal untuk meringankan beban biaya keluarga yang ditinggalkan.
“Meskipun dilakukan dengan massal, ngaben ini tidak mengurangi makna dari upacara yang dilakukan sesuai dengan dasar agama,” kata Kades Tugu Sempurna. (HS-3/rilis)